Address
Crown Palace Shophouse, Jl. Prof. DR. Soepomo No.17A Block A, Menteng Dalam, Tebet District, South Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta 12870
Diar Al Manasik, Jakarta – Arafah bukan sekadar tempat penting dalam rangkaian ibadah haji. Di balik namanya, tersimpan sejarah dan makna spiritual yang mendalam. KH. Anang Rikza Masyhadi, ulama asal Indonesia yang kini berada di Mekkah, memaparkan setidaknya ada tiga alasan mengapa tempat ini dinamakan “Arafah.”
1. Tempat Pertemuan Pertama Nabi Adam dan Hawa
Menurut Kiai Anang, kisah Arafah bermula dari pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah sekian lama terpisah usai diturunkan dari surga. Di bumi, keduanya akhirnya dipertemukan kembali di padang Arafah. Dari peristiwa inilah muncul istilah ta’aruf, yang dalam bahasa Arab berarti saling mengenal kembali, menjadi salah satu akar dari kata “Arafah.”
“Keduanya bertemu kembali untuk pertama kali di dunia dan saling mengenal kembali, yang dalam bahasa Arab disebut: “Ta’arofa – yata’arofu,” Kiai Anang, Makkah.
2. Lokasi Pertama Turunnya Pelajaran Manasik
Alasan kedua berkaitan dengan sejarah ibadah haji. Di Arafah, Malaikat Jibril AS menyampaikan langsung tata cara manasik haji kepada Nabi Ibrahim AS. Setelah selesai menjelaskan seluruh rangkaian ibadah, Jibril bertanya, “Arofta?” (Sudahkah kau memahami?). Nabi Ibrahim pun menjawab, “Aroftu” (Aku sudah mengerti). Melalui dialog ini, Arafah juga dimaknai sebagai tempat untuk memahami dan mengerti.
3. Tempat Mengakui Dosa dan Memulai Taubat
Arafah juga dikenal sebagai tempat muhasabah, refleksi, dan pengakuan dosa. Jamaah haji yang berwukuf di Arafah berdoa dan memohon ampunan. Kiai Anang menjelaskan, dari sinilah muncul pengertian Arafah sebagai tempat pengakuan dosa dan kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar: “Arofa bi dzanbihi wa arofa kaifa yatuubu.” Hal ini memiliki perspektif bahwa Arafah memiliki arti mengakui.
Tiga kisah tersebut memperkaya pemahaman kita bahwa Arafah bukan hanya lokasi ibadah, tetapi juga tempat penuh pesan spiritual, yaitu mengenal kembali, memahami ajaran, dan mengakui kesalahan. Sebuah tempat di mana jiwa benar-benar mendekat kepada Allah SWT.


