Mekkah, Ka’bah, Arab Saudi (Dok Pixabay: adilwahid)

Pemerintah Indonesia Kerahkan 1.044 Tenaga Kesehatan di Puncak Ibadah Haji

Diar Al Manasik, Jakarta – Untuk menyambut puncak haji yang sedang berlangsung di Arafah, Muzdalifah dan Mina(Armuzna), Pemerintah RI mengerahkan 1.044 orang Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK), 192 orang Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bidang Kesehatan, 14 ambulans beserta dua sopirnya, empat bus safari wukuf, serta obat-obatan.

Mecca (Pixabay By: adliwahid)

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (4/5/2025). Liliek mengatakan, puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tinggal hitungan jam.

Mulai tanggal 4 Juni, jamaah mulai bergerak ke Arafah, dan kekuatan pelayanan kesehatan haji Indonesia terletak pada jaringan layanan yang terencana dan terintegrasi di seluruh titik krusial Armuzna.“Kehadiran negara dalam memberikan pelayanan kesehatan haji kepada jamaah adalah kewajiban,” kata Liliek.

Dia juga menerangkan tentang logistik obat dan perbekalan kesehatan (perbekkes) yang disiapkan, antara lain untuk kebutuhan kloter selama di Armuzna; kebutuhan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina; serta kebutuhan bus safari wukuf. Per Selasa (3/6), katanya, obat dan perbekkes mulai didistribusikan ke Arafah dan Mina.

Senada, Kepala Bidang Kesehatan (Kabid) PPIH Arab Saudi dr. Mohammad Imran menjelaskan bahwa pada pelaksanaan kesehatan haji saat di Armuzna akan disediakan layanan konsultasi medis oleh dokter umum dan spesialis, obat dan perbekkes, fasilitas rujukan, ambulans, serta pendataan melalui Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes).

Adapun Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan Yuli Farianti, yang juga sebagai Ketua Tim Asistensi PPIH Arab Saudi Bidang Kesehatan, mengingatkan kepada para petugas agar selalu menjaga kesehatan, dan tidak lupa mengatur waktu makan dan minum, selain memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan kepada jemaah.

“Lakukan komunikasi dan lead dengan baik dari PJ yang ditunjuk oleh PPIH Kesehatan ke 8 syarikah. Untuk para TKHK, apabila ada keadaan yang tidak bisa ditangani sendiri, kontak tim terdekat dan konsultasikan dengan PJ. Terus edukasikan kepada jamaah lansia: lebih baik beribadah di dalam tenda,” kata dia.

Adapun berdasarkan Peta Misi Haji Indonesia, Kementerian Agama menentukan delapan syarikah yang mengelola penyelenggaraan akomodasi dan transportasi para jemaah haji, termasuk tenda di Armuzna. Syarikah tersebut antara lain: Al Bait Guests, Rakeen Mashariq, Sana Mashariq, Rehlat & Manafea, Al Rifadah, Rawaf Mina, MCDC, dan Rifad.

Dengan adanya mekanisme delapan syarikah saat ini, Yuli mengungkapkan adanya permasalahan pada TKHK yang mengalami overload jemaah.

“Contohnya, ada salah satu syarikah yang hanya memiliki satu dokter yang harus menangani 800 jemaah. Ada juga tempat lain yang jumlah dokternya banyak, dengan perbandingan 1:200 jemaah. Kita harus berkolaborasi satu sama lain. PPIH Kesehatan akan mengisi kekosongan yang ada di kloter masing-masing,” kata Yuli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *