Address
Crown Palace Shophouse, Jl. Prof. DR. Soepomo No.17A Block A, Menteng Dalam, Tebet District, South Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta 12870
Diar Al Manasik, Jakarta – Ibadah sholat Arbain atau sholat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, Madinah, menjadi amalan yang banyak dikerjakan oleh jamaah haji dan umrah asal Indonesia. Namun, belakangan, amalan ini kembali menjadi topik diskusi di kalangan ulama, terkait dasar hukumnya dan apakah termasuk amalan yang disyariatkan secara khusus.

Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia (DMI), KH Syamsul Maarif, menyampaikan bahwa meski sholat Arbain memiliki keutamaan dari sisi menjaga konsistensi ibadah, namun tidak ada kewajiban atau tuntunan khusus dalam syariat Islam yang mewajibkan melaksanakannya.
“Sholat Arbain bukanlah ibadah yang masuk dalam rukun atau wajib haji. Ini lebih kepada kebiasaan atau anjuran menjaga sholat berjamaah, khususnya di tempat mulia seperti Masjid Nabawi,” jelas KH Syamsul, Madinah (26/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa riwayat, memang disebutkan keutamaan bagi siapa yang menjaga sholat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu tanpa terputus, namun tidak ada ketegasan dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkannya sebagai kewajiban haji.
Pakar hadis dan akademisi Universitas Islam Madinah, Dr. Abdullah Al-Muqri, menambahkan bahwa keutamaan sholat berjamaah di Masjid Nabawi memang sangat besar. Namun, penting bagi jamaah untuk tidak menganggap sholat Arbain sebagai keharusan yang bila ditinggalkan akan mengurangi nilai hajinya.
“Keutamaan sholat di Masjid Nabawi adalah satu sholat setara 1.000 sholat di masjid lain, dan itu berlaku kapan saja. Tidak perlu terikat dengan angka 40 waktu berjamaah,” ungkap Dr. Abdullah.
Kementerian Agama RI sendiri tidak pernah mewajibkan pelaksanaan sholat Arbain sebagai bagian dari program haji. Meski demikian, pembimbing ibadah tetap memberi ruang bagi jamaah yang ingin melaksanakannya, selama tidak mengganggu rangkaian ibadah haji wajib lainnya.
Dengan demikian, jamaah haji diharapkan tetap fokus pada rukun dan wajib haji terlebih dahulu, serta tidak terbebani dengan anggapan bahwa sholat Arbain adalah keharusan. Amalan tersebut tetap dianjurkan selama dilakukan dengan kesadaran, bukan paksaan ataupun kekhawatiran akan kurangnya pahala.


