Address
Crown Palace Shophouse, Jl. Prof. DR. Soepomo No.17A Block A, Menteng Dalam, Tebet District, South Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta 12870
Diar Al Manasik, Jakarta – Wukuf di Arafah kerap disebut sebagai gambaran Padang Mahsyar, hari di mana seluruh umat manusia dikumpulkan untuk menanti keputusan akhir dari Allah SWT. Wukuf menjadi momen reflektif yang sangat dalam. Di sana, jutaan jamaah berdiam diri, merenung dalam harap dan cemas. Hanya satu yang dinantikan, yaitu ampunan dan ridha dari Allah SWT.

Di Padang Arafah, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul, menggambarkan Padang Mahsyar yang kelak akan benar-benar terjadi. Saat semua umat manusia berkumpul, mulai dari Nabi Adam AS hingga manusia terakhir. Inilah titik awal pengadilan akhirat, di mana surga atau neraka menjadi penentuan. Hal ini digambarkan juga dalam Al-Qur’an:
“Di tempat itu (Padang Mahsyar), setiap jiwa merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya (dahulu) dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka apa (pelindung palsu) yang mereka ada-adakan.” (QS Yunus: 30).
Di Padang Mahsyar, jarak antara manusia dan matahari sangat dekat. Teriknya matahari, keringat bercucuran dengan amat deras sehingga merendam sebagian atau bahkan seluruh tubuh mereka. Rasulullah SAW bersabda:
“Pada Hari Kiamat, matahari didekatkan kepada seluruh makhluk hingga berjarak satu mil di atas kepala mereka, lalu seluruh manusia akan tergenang dalam peluh mereka berdasarkan kadar amalan mereka di dunia.” (HR Muslim).
Di tengah dahsyatnya hari kiamat, saat manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam, tidak ada tempat bernaung dari panas dan ketakutan yang meliputi, kecuali bagi hamba-hamba yang Allah pilih untuk mendapat naungan-Nya. Hari itu begitu panjang dan melelahkan, namun Allah memberikan kemuliaan dan perlindungan bagi golongan yang dijanjikan berada di bawah naungan Arsy-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Yaitu) pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya; orang yang hatinya terpaut pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah sehingga berkumpul dan berpisah karena Allah; lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang yang berkedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’; orang yang bersedekah lalu merahasiakannya hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya; orang yang berdzikir kepada Allah kala sunyi, lalu bercucuran air matanya.” (HR Bukhari).


